Cerita candi Prambanan..-

22 11 2011

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Candi Prambanan yang terletak di Jl. Solo Km 16 , Prambanan Yogyakarta Timur/Sleman memiliki legenda yang di percaya masyarakat sekitar. Menceritakan tentang seorang putri bernama Loro Jonggrang atau Durga Mahisasuramardini dari Keraton Boko. Berikut Legenda Candi Prambanan:
Pada jaman dahulu kala di Pulau Jawa, khususnya di daerah Prambanan berdiri dua buah Kerajaan Hindu, yaitu Kerajaan Pengging dan Keraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerajaan subur dan makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putra laki-laki yang bernama Bandung Bondowoso.
Sedangkan Keraton Boko berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan suka makan daging manusia bernama Prabu Boko. Prabu Boko mempunyai seorang putri yang cantik jelita laksana bidadari bernama putri Loro Jonggrang dan seorang patih yang berwujud raksasa benama Patih Gupolo.
Prabu Boko ingin memberontak dan menguasai kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan untuk melaksanakan ambisinya itu. Setelah persiapannya, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajuritnya menuju ke Kerajaan Pengging untuk memberontak. Kemudian terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara prajurit Pengging dan prajurit Kraton Boko. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang. Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilah perang sangat sengit antara Raden bandung Bondowoso melawan Prabu Boko, yang berakhir dengan kematian Prabu Boko.
Melihat rajanya tewas maka Patih Gupolo melarikan diri, yang kemudian di kejar Raden Bandung sampai ke Keraton Boko. Setelah sampai di Keraton Boko, Patih Gupolo melaporkan pada putri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di meda perang, dibunuh kesatria Pengging yang bemama Raden Bandung Bondowoso. Maka berdukalah Putri Loro Jonggrang, sedih ayahnya telah tewas di medan perang.
Pada saat Raden Bandung Bondowoso di Keraton Boko, ia terkejut melihat kecantikan putri Loro Jonggrang dan ingin mempersunting Loro Jonggrang sebagai istrinya. Karena Raden Bondowoso telah membunuh ayahnya, Putri Loro Jonggrang memikirkan siasat untuk menolak pinangannya itu, dan dia mengajukan dua buah permintaan kepada Raden Bondowoso. Pertama Putri Loro Jonggrang ingin dibuatkan 1000 candi dalam satu malam dan yang kedua Putri Loro Jonggrang ingin dibuatkan sebuah sumur.
Bandung Bondowoso menyanggupi kedua permintaan sang putri, dan segera ia membuat sumur Jala Tunda dan setelah jadi ia memanggil putri Loro Jonggrang untuk melihat sumur tersebut. Kemudian putri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso untuk masuk ke dalam sumur. Dan setelah Raden Bandung sampai di bawah, putri memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dengan batu. Putri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap Raden Bandung telah mati di dalam sumur akibat tertimbun batu. Akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung belum mati dan ia bersemedi untuk dapat keluar dari sumur tersebut.
Setelah keluar dari sumur, Raden Bandung Bondowoso kembali menemui putri Loro Jonggrang dengan marah besar karena telah menimbunnya di dalam sumur, tetapi karena kecantikan putri Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung menjadi mereda. Kemudian putri Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam satu malam. Maka segeralah Raden Bandung memerintahkan para jin untuk membuat 1000 candi, akan tetapi di lain pihak putri Loro Jonggrang ingin mengagalkan usaha Bandung membuat candi. la memerintahkan para gadis disekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.
Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta ditimur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Para jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak bisa meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Akan tetapi menurut firasat Raden Bandung, pagi hari belumlah tiba.
Maka dipanggilah putri Loro Jonggrang untuk disuruh menghitung jumlah candi yang telah dibuat dan ternyata jumlahnya baru 999 candi, kurang satu candi lagi. Maka putri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung. Karena merasa ditipu dan dipermainkan, Raden Bandung murka sekali dan mengutuk putri Loro Jonggrang “Hai Loro Jonggrang 1000 candi kurang satu dan genapnya seribu candi dan engkaulah orangnya”. Dan segera putri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu. Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua), karena telah membantu putri Loro Jonggrang.
Mitos yang berkembang kemudian, pasangan muda yang menjalin asmara bermain di Candi Sewu/Candi Roro Jonggrang maka cintanya bakal berakhir atau putus cinta.
Kisah legenda tersebut secara lengkap dapat dilihat di gedung Museum yang berada di dalam lokasi Candi Prambanan. Selain memiliki ruang Audio Visual yang memutarkan film selama 15 menit tentang sejarah ditemukannya Candi Prambanan hingga proses renovasi dan purna pugarnya secara lengkap, Museum ini juga memamerkan koleksi benda-benda arkeologi serta perhiasan-perhiasan peninggalan raja Mataram kuno yang ditemukan di Wonoboyo, Klaten.
About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: