IPK Rendah Dapat Beasiswa – Mitos atau Fakta?

14 12 2011

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Catatan: Tentu saja saya tidak bermaksud mendorong mahasiswa yang sedang kuliah S1 sekarang untuk jadi santai dan tidak berusaha mendapatkan IPK setinggi-tingginya. Kesempatan mendapatkan beasiswa akan jauh lebih besar dengan IPK yang lebih dari rata-rata. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi wawasan bagi rekan-rekan yang keburu sudah lulus S1 dengan IPK yang tidak terlalu tinggi tapi mempunyai keinginan kuat untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri.

Sebuah email dikirim ke saya dari seorang member di milis beasiswa. Isi emailnya cukup panjang, walaupun inti pertanyaannya sederhana: “IPK di bawah 3.0 beneran bisa dapat beasiswa???”.

Hm… tentang IPK ini memang sering mengundang kontroversi. Di milis beasiswa sudah berulang kali member menanyakannya. Bahkan, karena sudah pernah ditanyakan dan didiskusikan sebelumnya, banyak email dengan pertanyaan sejenis terpaksa ditolak masuk ke milis beasiswa (maaf ya). Tapi bukan berarti pertanyaan tersebut berhenti. Malah akhirnya, pertanyaannya dilayangkan langsung ke email moderator. Dan mungkin sudah saatnya memang pertanyaan ini dijawab.

Baiklah.. Kalau ditanyakan apakah saya sudah pernah secara persis mengenal seseorang yang mendapatkan beasiswa walaupun IPK nya kecil (di bawah 3.00), jawab saya: tidak pernah. Tapi, kalau ditanyakan, apakah IPK kecil bisa dapat beasiswa, jawabannya: ya, bisa.

Wah, yang bener aja??… Mungkin begitu pikiran yang muncul di benak pembaca.. Come on men… Mana mungkin ini terjadi?

Tapi begitulah kenyataannya. Berbagai email di milis beasiswa sudah menunjukkan hal itu. Coba dengar apa kata Nurul Widyaningrum:

“Pengalaman saya (dan juga kakak saya sendiri), IPK kami di bawah persyaratan adminsitrasi tapi kami masih bisa dapat beasiswa keluar”.

Sekali lagi: “IPK Nurul dan kakaknya di bawah persyaratan tapi dapat beasiswa”… Bukan hanya Nurul, bahkan kakaknya, bisa dapat beasiswa dengan IPK rendah.

Yang juga menarik adalah cerita dari Susi:

“Kegagalan demi kegagalan mewarnai kehidupan saya. Jangankan untuk sekolah ke luar negeri, untuk bisa diterima di universitas terbaik di pulau Jawa saja, saya kurang berhasil. Dulu untuk masuk perguruan tinggi negeri, kami diwajibkan mengikuti UMPTN. Orang tua saya bilang jika tidak diterima di negeri tidak ada biaya, dari 3 kesempatan mengikuti UMPTN, semuanya berakhir diterima di perguruan tinggi negeri di provinsi tempat saya tinggal.

Akhirnya saya mencoba menekuni bidang yang saya sendiri saat itu tidak jelas. Sangat berat mengikuti perkuliahan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang saya rasa sebagian kurang kondusif. Dengan alasan ekonomi dan nilai IPK yang rendah (cuma 2 koma), saya hanya bisa menamatkan Diploma 3 di Fakultas Teknik. “

Apa yang terjadi dengan Susi sekarang?

Agustus 2004, saya berangkat sekolah di AS dan tahun lalu menyelesaikan master saya dengan GPA yang hampir 4.0. Bahkan awal tahun ini saya bisa melanjutkan S3 dengan tuition dibiayai oleh doctoral fund dan research di universitas yang sama di AS.

Saya sungguh-sungguh terharu membaca kisah Susi. Susi punya segala alasan untuk menyerah dan mengatakan: “Yah, memang wajar saya nggak bisa dapat beasiswa”. Sekolah di universitas biasa, D3 lagi, bahkan jurusan Teknik (yang menurut sebagian orang susah dapat beasiswa) ditambah IPK yang pas – pasan. Tapi kenyataannya, Susi tidak mau menyerah atas realita yang dirasakannya saat itu.

Buat saya, ini menunjukkan jalan menuju beasiswa untuk rekan-rekan yang mempunyai IPK rendah masih terbuka. Mungkin tidak selebar jalan bagi mereka yang memiliki IPK tinggi, tapi tetap saja jalan tersebut ada.

Jadi, OK, moga-moga Anda sekarang sepakat dengan saya bahwa dengan IPK di bawah 3,00, Anda masih bisa dapat beasiswa. Kalau begitu, kalau kita sudah sepakat, sekarang tentunya perlu dipikirkan strateginya untuk memenangkan beasiswa buat Anda pemilik IPK rendah.

Begini menurut saya (kalau kamu ada tambahan, silahkan tambahkan di bagian komentar di bawah):

  1. Percayalah bahwa kalau sesuatu dapat dilakukan oleh orang lain, sebagai manusia yang juga sempurna dan tidak kekurangan sesuatu apapun, kamu juga dapat melakukan hal tersebut. Jadi, kalau ada orang lain yang bisa mendapatkan beasiswa dengan IPK kurang dari persyaratan, kamu pun bisa melakukannya.
  2. Ingat selalu, kesempatan buat beasiswa bukan hanya datang dari lembaga-lembaga seperti AMINEF (Fulbright), ADS, NESO (Stuned), dll. Ada berbagai cara lain untuk mendapatkan beasiswa. Susi tidak mendapatkan beasiswa dari salah satu lembaga yang saya sebutkan sebelumnya. Jadi keep your mind and heart open.
  3. Kalau IPK kamu rendah, kamu perlu menunjukkan kelebihan di bidang lain. Mendapatkan hasil tes TOEFL, GMAT, atau GRE yang jauh lebih tinggi dari rata-rata bisa menolong. Menunjukkan prestasi lain, seperti tulisan, hasil karya, etc., di tingkat nasional maupun internasional juga pasti membantu. Saya jadi ingat, seorang teman menulis begini di esainya:

    “Ya memang benar IPK S1 saya tidak terlalu bagus. Ini terjadi karena saat kuliah S1 saya tidak terlalu serius. Tapi setelah bekerja, saya memfokuskan diri saya untuk mempelajari tentang satu kontrak penting. Saya menjadi ahli terbaik di bidang tersebut, dan akhirnya karir saya berkembang.”

    Teman saya itu berhasil menyelesaikan S2 nya di salah satu universitas di Belanda dengan beasiswa!

  4. Cari kenalan profesor di universitas yang dituju yang bisa membantu kamu. Saya akan menuliskan tentang cara berkenalan dengan profesor di universitas di luar negeri di lain kesempatan. Tapi cara yang paling mudah tentunya lewat Internet. Gunakan sebanyak mungkin Internet untuk mencari profesor yang mungkin bisa membantu kamu.
  5. Di motivation statement berikan alasan yang kuat yang membuat kamu tidak berhasil mendapatkan IPK tinggi. Ini adalah saran yang diberikan Roby J. (salah seorang moderator milis beasiswa, kuliah di US). Nyatakan dengan baik alasan tersebut. Tentunya alasan-alasan katro seperti: dosen saya parah, kampus saya memang begitu, dan segudang alasan lemah lainnya tidak bisa diterima. Alasan yang kuat seperti: saya kehilangan salah satu orang tua saya atau saya harus membantu orang tua mencari nafkah, tentunya akan memberi nilai lebih.

So, kesimpulannya, dengan berbagai strategi, seseorang dapat memenangkan beasiswa walaupun memiliki IPK yang rendah. Sekarang tergantung Anda, mau atau tidak?

Saya ingin mendengar pendapat kamu tentang ini, terutama jika kamu pernah memenangkan beasiswa walapun IPK S1 rendah. Tuliskan komentar kamu di bawah.

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: